Inkontinensia urine merupakan gejala klinis dan bukan penyakit yang berdiri sendiri. Kondisi ini dapat terjadi pada semua kelompok usia dan bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan, meskipun prevalensinya meningkat pada lansia. Inkontinensia urine menimbulkan ketidaknyamanan, rasa cemas saat beraktivitas sosial, dan penurunan kualitas hidup yang signifikan. Klasifikasi klinis meliputi inkontinensia urine stres, urgensi, campuran, luapan (overflow), dan fungsional. Gejala penyerta sering kali mencakup sering buang air kecil (frekuensi), desakan mendadak (urgensi), dan infeksi saluran kemih berulang.
Fungsi Otot Dasar Panggul
Otot dasar panggul membentang seperti ayunan dari tulang ekor di belakang hingga tulang kemaluan di depan, menyangga organ vital panggul seperti kandung kemih, prostat (pada pria), rektum, dan rahim (pada wanita). Ketika otot dasar panggul melemah atau kendali neuromuskular menurun, daya topang organ berkurang dan penutupan sfingter uretra melemah, memicu kebocoran urine tanpa disengaja.
Latihan Kegel
Saat mencoba menghentikan aliran urine secara tiba-tiba di tengah berkemih, kontraksi di area perineum dan anus menunjukkan kerja otot dasar panggul. Senam Kegel merupakan latihan kontraksi dan relaksasi dasar untuk memperkuat otot panggul, namun banyak pasien kesulitan mengidentifikasi otot yang tepat serta mempertahankan konsistensi latihan.
Kursi Magnetik: Teknologi HIFEM Canggih
Teknologi Elektromagnetik Terfokus Intensitas Tinggi (High-Intensity Focused Electromagnetic – HIFEM) telah digunakan secara luas dalam penanganan inkontinensia urine pria maupun wanita. Berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik Faraday, perangkat ini menghasilkan medan magnet berdenyut dengan intensitas hingga 2.5 Tesla yang menembus jaringan tubuh bagian dalam. Medan magnetik ini mendepolarisasi neuron motorik dan memicu “kontraksi otot supramaksimal” (supramaximal contractions) yang tidak dapat dicapai melalui latihan fisik sukarela, merangsang hipertrofi otot dan memperkuat daya tahan sfingter uretra (Gambar 1).


Keunggulan Kursi Magnetik UI CUBE
- Sepenuhnya Non-Invasif: Tidak memerlukan penyisipan probe ke dalam tubuh atau penempelan elektroda pada kulit.
- Berpakaian Lengkap: Pasien tetap mengenakan pakaian sehari-hari secara santai di kursi magnetik, menjaga kenyamanan dan privasi penuh.
- Waktu Terapi Cepat: Setiap sesi berlangsung sekitar 20–30 menit, dijadwalkan 2–3 kali per minggu dengan total 6–10 sesi.
- Setara Belasan Ribu Latihan Kegel: Satu sesi menghasilkan stimulasi neuromuskular yang setara dengan lebih dari 10.000 kontraksi Kegel sempurna.
- Penetrasi Dalam Tanpa Hambatan: Berbeda dari stimulasi listrik biasa, energi magnetik menembus secara merata tanpa rasa nyeri terbakar pada kulit.
Bukti Klinis
Studi klinis menunjukkan bahwa mayoritas pasien yang menjalani terapi HIFEM mengalami peningkatan signifikan dalam kualitas hidup dan pengurangan nyata penggunaan bantalan higienis (pembalut). Hasil perbaikan ini bertahan stabil hingga pemantauan 6 bulan. Evaluasi ultrasonografi 3D juga mengonfirmasi remodeling positif pada integritas struktur dan dinamika dasar panggul.
Kesimpulan
Terapi kursi magnetik HIFEM merupakan metode yang aman, nyaman, dan berisiko rendah untuk mengatasi inkontinensia urine stres maupun urgensi. Konsultasi langsung dengan dokter spesialis urologi sangat dianjurkan untuk evaluasi komprehensif dan penyesuaian rencana terapi yang optimal.
Referensi
- Kimberly L. Evans KL, et al. Prospective Multi-Center Study on Long-term Effectiveness of HIFEM procedure. Journal of Women’s Health Care. 2023;12(2):625.
- Braga A, et al. Efficacy of 3 Tesla Functional Magnetic Stimulation for Urinary Incontinence. J Clin Med. 2022;11(10):2805.
- Silantyeva E, et al. HIFEM and Electrostimulation for Pelvic Floor Muscles. Female Pelvic Med Reconstr Surg. 2021;27(4):269-273.